Fakta-fakta Janda Nunukan yang Beri Pelajar Obat Kuat Berhubungan Intim Untuk Puaskan Nafsunya

 

Ilustrasi

Ilustrasi Janda

TRIBUNPEKANBARU.COM - Inilah 7 fakta seorang janda di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara diduga mencekoki seorang remaja 16 tahun menggunakan obat kuat agar mampu melayaninya berulangkali.

Saat ini, remaja berinisial R tersebut dirawat di rumah sakit karena mengalami depresi berat setelah diperlakukan oleh janda seperti itu.

Setelah melihat kondisi remaja mengalami depresi berat tersebut, jajaran anggota Polres Nunukan pun turun tangan untuk menyelidikinya.

Penyelidikan difokuskan ke dugaan pemberian obat kuat yang disebut olah janda tersebut sebagai vitamin.

Nasib malang dialami seorang remaja lelaki berusia 16 tahun berinisial R.

Berikut fakta-faktanya dikumpulkan oleh reporter Tribun Network di lapangan:

1. Diduga dicekoki obat kuat

Kasus tersebut kini tengah ditangani aparat kepolisian Polres Nunukan.

Remaja R itu diduga dicekoki obat kuat dan obat perangsang oleh janda berinisial SR.

Tujuannya agar R bisa bercinta dengan SR berulangkali di ranjang.

Namun, untuk obat-obatan yang sempat diberikan terduga pelaku kepada korban, polisi masih menyelidiki hal tersbeut.

Kapolres Nunukan, AKBP Ricky Hadiyanto melalui Plt Kasi Humas Polres Nunukan Iptu Supriadi menjelaskan, pihaknya hingga kini masih mendalami dugaan obat kuat yang diberikan pelaku SR kepada remaja 16 tahun itu.

Sebab, kata dia, hal tersebut perlu pembuktian secara madis dan juga keterangan dari korban juga pelaku SR.

"Katanya vitamin tapi perlu pembuktian jenis obatannya apa, tersangka masih diamankan belum dilakukan pemeriksaan mendalam," imbuh Iptu Supriadi.

Kini, janda tersebut sudah dinyatakan sebagai tersangka.

2. Trauma berat

Setelah melayani janda berulangkali, remaja R mengalami trauma.

Saat ini korban R cenderung menyendiri, melamun, kadang tertawa dan berbicara sendiri.

"Semoga anak itu segera pulih. Kita prihatin apalagi dia masih pelajar juga, masa depannya masih panjang," tutur Direktur Utama RSUD Nunukan, dr Dulman.

Saat ini korban mengalami trauma hingga harus dirawat di RSUD Nunukan.

3. Ditangani 3 dokter spesialis

Direktur Utama RSUD Nunukan, dr Dulman mengatakan pihaknya menyiapkan tiga dokter spesialis untuk menangani masalah kesehatan remaja yang menjadi korban pelecehan seksual.

"Saya menugaskan tiga orang dokter spesialis untuk melakukan pemantauan dan pengobatan terhadap korban. Dokter spesialis kesehatan jiwa, dokter spesialis kesehatan anak, dan spesialis kulit dan kelamin," kata dr Dulman kepada TribunKaltara.com, Jumat (20/05/2022).

Menurut dr Dulman, korban inisial R itu mengalami depresi berat, lantaran pelecehan seksual yang dialami korban sudah berkali-kali.

Menurutnya, korban sudah dirawat di RSUD Nunukan sejak Selasa (17/5/2022) dengan kondisi jiwa yang cukup memprihatinkan.

Namun saat ini kata dia, korban R sudah tidak ditangani lagi oleh dokter spesialis kesehatan anak dan spesialis kulit dan kelamin.

"Waktu datang keluhannya rasa gatal pada kelamin, takutnya menderita penyakit kelamin. Sifilis tidak didapatkan. Saat ini masalah jiwa anak itu, karena kalau penanganan masalah jiwa anak waktunya tidak sebentar," ujarnya.

4. Awal perkenalan di TikTok

Terungkap awal perkenalan remaja R dengan janda paruh itu berawal lewat aplikasi TikTok.

Bahkan, kata polisi, janda berinisial SR itu saat ini sudah diamankan dan ditetapkan sebagai tersangka.

Kapolres Nunukan, AKBP Ricky Hadiyanto melalui Plt Kasi Humas Polres Nunukan Iptu Supriadi mengatakan, terduga pelaku SR diamankan di Jalan Tanjung, Kelurahan Nunukan Barat, tempatnya bekerja mengikat rumput laut (mabettang).

"Kemarin terduga pelaku itu sudah kami amankan ke Polres Nunukan, setelah ada laporan masuk dari ibu korban."

"Saat ini terduga pelaku masih menjalani pemeriksaan," kata Iptu Supriadi dikutip TribunnewsBogor.com dari TribunKaltara.com, Sabtu (21/05/2022).

Menurut Iptu Supriadi, komunikasi antara korban dengan terduga pelaku mulai Maret 2022 lalu.

Keduanya berkenalan melalui aplikasi TikTok hingga berlanjut chatingan WhatsApp.

5. Anak pekerja migran

Korban R merupakan anak Pekerja Migran Indonesia (PMI). Kedua orangtuanya bekerja di Keningau, Malaysia.

Korban R selama ini tinggal ke asrama.

Kepada pihak asrama, SR mengaku kalau R ini sebagai anak angkatnya.

Maka dari itu, SR pun sering mendatangi R.

Kejadian terkuak ketika R sering izin untuk beribadah, namun ternyata pergi ke kosan pelaku.

"Di Nunukan korban tinggal di asrama sekolah. Dari cerita orangtua dan guru korban, selesai jam sekolah, korban sering minta izin kepada kepala asrama untuk beribadah. Ternyata pergi ke kos perempuan itu," ucapnya.

Supriadi menuturkan, pertemuan hingga berujung pelecehan yang dialami korban membuat perilaku R mengalami perubahan drastis di sekolah.

R yang dikenal siswa yang ceria, kini cenderung melamun dan sering didapati gurunya berbicara seorang diri.

Melihat gelagat muridnya, guru itu pun bercerita kepada ibu korban.

"Padahal anaknya dikenal selalu ceria. Akhirnya karena gurunya penasaran, dilakukan pendekatan hingga anak itu mau cerita kejadian sebenarnya kepada gurunya. Lalu guru ceritakan kepada orangtua korban di Malaysia," tuturnya.

6. Pelaku kerap kirim foto panas

Ibu korban dibuat terkejut saat melihat isi ponsel putranya itu dengan sejumlah gambar tak pantas untuk anak di bawah umur.

Saat itu, ibu korban pulang dari Malaysia untuk memastikan kondisi putranya tersebut.

Ia menduga, putranya menyimpan hal yang tak bisa dijelaskan sehingga sikapnya berubah menjadi pemurung.

Saat itu, sang ibu tak sengaja melihat ponsel sang anak.

Rupanya, di dalam ponsel R tersebut banyak sekali foto vulgar yang dikirimkan oleh perempuan yang diduga merupakan mantan PSK itu.

"Dari cerita ibu korban, perempuan itu sering mengirim foto vulgar kepada korban."

"Ya mungkin saja, namanya anak remaja rasa ingin tahu lebih banyak. Hingga terjadi pelecehan berkali-kali," ujarnya.

Melihat hal tersebut, ibu korban pun mendesak anaknya untuk buka suara.

Diakui R, ia dijadikan pemuas nafsu SR berkali-kali.

Mendengar pengakuan putranya, ibu korban didampingi guru pun tak sungkan untuk melapor ke kantor polisi

Penyidik Polres Nunukan hingga kini masih melakukan pemeriksaan terhadap terduga pelaku.

"Penyidik masih periksa terduga pelaku itu. Apa motifnya termasuk juga apakah dia memang benar mantan PSK. Unsur penerapan pasal nanti setelah rangkaian gelar perkara selesai," ungkapnya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Bawah Artikel