Boyolali Catat 21 Kasus Penyakit Mulut-Kuku Ternak di Singosari dan Ngenden

 

Petugas kesehatan hewan memeriksa sapi-sapi yang terpapar penyakit mulut dan kuku (PMK) di Desa Singosari, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali, Jumat (13/5/2022). (Foto: Jarmaji/detikJateng)
Boyolali - Kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) ditemukan di Boyolali, Jawa Tengah. Jumlah kasusnya mencapai 21 yang ada di Desa Singosari, Kecamatan Mojosongo dan Desa Ngenden, Kecamatan Ampel.

"Laporan dari Bu Lusi, Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan melaporkan pada kami, ada 15 kasus di Desa Singosari (Kecamatan Mojosongo) dan 6 kasus di Desa Ngenden, Kecamatan Ampel. Artinya secara keseluruhan di Boyolali berjumlah 21 kasus (PMK)," ungkap Bupati Boyolali, M Said Hidayat, saat menerima kunjungan kerja Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, di ruang Merbabu kantor Bupati, Jumat (13/5/2022).

Said Hidayat menyatakan atas temuan penyakit pada hewan ternak itu pihaknya meminta dinas terkait bersama jajarannya untuk segera bertindak cepat melokalisir persebaran virus PMK. Sapi-sapi yang didiagnosa terkena PMK diinstruksikan segera diobati.

"Langkah-langkah yang kita lakukan segera melokalisir. Pengalaman kita menangani pandemi COVID-19, kita terapkan pula dalam pola penanganan PMK di Kabupaten Boyolali," ujar Said Hidayat.

Dengan langkah yang cepat tersebut, lanjut Said, kondisi kesehatan 21 hewan ternak warga yang terkonfirmasi positif PMK itu saat ini kondisinya sudah membaik. Nafsu makannya sudah mulai pulih sehingga harapan sembuh sangat tinggi.

"Tanggal 7 (Mei) dilaporkan, tanggal 8 (Mei) kepala dinas, beserta seluruh jajaran, dokter hewan, seluruh lini dinas bergerak (melakukan penanganan) menyuntikan obat-obatan ke sapi. Tanggal 12 (Mei) dilaporkan semua dalam perkembangan dan posisi membaik," jelasnya.

Selain itu Bupati juga memerintahkan seluruh pasar hewan di Boyolali dilakukan penyemprotan disinfektan. Di Boyolali terdapat 5 hewan, yaitu Pasar Hewan Jelok Cepogo (pindahan dari pasar Sunginggan), Pasar Hewan Nogosari, Pasar Hewan Karanggede dan Pasar Hewan Simo.

"Kemudian dilanjutkan dititik-titik peternakan di Kabupaten Boyolali," imbuh dia.

Said menjelaskan pihaknya tidak mengambil kebijakan menutup seluruh pasar hewan di Boyolali dalam penanganan persebaran virus PMK. Hal ini karena terkait dengan kegiatan ekonomi warga. Jika pasar hewan ditutup dinilai bisa berdampak pada kegiatan ekonomi warga.

"Maka kecepatan langkah ini adalah upaya penyelamatan hewan ternak dan penyelamatan ekonomi bagi petani peternak yang ada di Boyolali," kata Said.

Sementara itu Kepala Bidang Kesehatan Hewan (Keswan) Disnakan Boyolali, Afiany Rifdania, menjelaskan kasus PMK di Kabipaten Boyolali selain di Desa Singosari, Kecamatan Mojosongo ditemukan juga di Desa Ngenden, Kecamatan Ampel. Di Desa Ngenden ini ada 6 hewan ternak warga yang positif PMK.

"(Kasus PMK) Yang di Desa Ngenden Hanya satu kandang, 6 hewan ternak, terdiri 3 sapi dan 3 kambing," terang Afiany.

Kasus di Desa Ngenden ini diketahui satu haru setelah temuan di Desa Singosari. Saat ini kondisinya sudah membaik semua.

"Diketahui pertama dari sapi. Terus kita tracing. Kan di kandang itu juga ada 3 ekor kambing, kita ambil sampelnya juga, ternyata hasilnya positif PMK. Yang kambing ini tidak kelihatan (terkena PMK), karena tidak bergejala. Ini malah berbahaya, bisa menjadi transmisi (penularan)," katanya.


Iklan Atas Artikel

Iklan Bawah Artikel