Hamili Santriwati, Ini Cara Herry Wirawan Bujuk Orangtua Korban Agar Tak Melaporkannya ke Polisi


   TRIBUNPALU.COM - YY (44), orangtua santriwati yang jadi                korban kebejatan guru ngaji asal Bandung, Herry Wirawan                merasa sangat sedih dan geram.

Bagaimana tidak, anak yang dititipkannya di pondok pesantren agar mendapatkan pendidikan malah menjadi korban pemerkosaan guru ngajinya sendiri.

Dari 12 santriwati yang dirudapaksa Herry Wirawan, ada 8 orang yang telah melahirkan anak, dan 2 orang yang tengah mengandung.

Bahkan, diketahui ada yang melahirkan hingga dua kali.

Satu santriwati yang dihamili dan melahirkan anak Herry Wirawan ini adalah putri YY.

YY bercerita pertama kali curiga ketika anaknya pulang ke rumah pada 3 hari sebelum lebaran 2021.

Ketika itu sang anak memintanya mengantar ke kamar mandi.

Akan tetapi, cara jalan sang putri membuat YY menaruh curiga.

"Setelah nganter anak saya BAB di belakang malam-malam, anak saya kok jalannya begini," katan YY, dilansir TribunnewsBogor.com dari TribunJabar.

Ayah korban pun mengajak sang anak mendatangi seorang tokoh agama untuk berkonsultasi.

Hingga kemudian, putri YY pun membongkar kebejatan guru pesantrennya.

Dalam pengakuannya ke YY, korban dipaksa melayani nafsu bejat pelaku hingga kemudian hamil dan melahirkan.

Anak korban kini sudah berusia 1,5 tahun.

"Akhirnya, anak saya terbuka mengaku sama ibunya, bahkan (mengaku) sudah punya anak," katanya.

FOLLOW:

Berdasar cerita korban, kata YY, sang anak selalu menolak saat dipaksa melakukan hubungan badan oleh Herry Wirawan.

Malahan baju sang anak sampai robek karena ditarik oleh Herry.

"Lalu beberapa hari kemudian dia diajak ke kantor apa saya kurang paham. Nah, di situ kata anak saya diajak ke hotel," katanya.

Geram mendengar pengakuan sang putri, ayah korban ini sempat akan langsung melaporkan Herry Wirawan ke polisi.

Akan tetapi, disebutkan YY, Herry Wirawan, melakukan segala macam cara agar aksinya itu tak dilaporkan ke polisi.

Sang guru ngaji itu malah menawari YY sejumlah uang untuk tutup mulut.

YY mengatakan Herry terus menerus menghubungi dirinya agar menerima uang tersebut agar kasus tersebut tidak ke jalur hukum.

Pelaku berniat damai dengan cara ingin membayar orangtua korban dengan sejumlah uang.

"Si Herry itu nelpon terus sama saya, dia bilang ada uang buat saya, saya tolak, saya terus tolak," ujarnya saat diwawancarai Tribunjabar.id, Sabtu (11/12/2021).

Ia menjelaskan, meski dirinya sudah menolak, pelaku masih saja terus-terusan menghubunginya untuk meminta damai.

"Dia selalu nanya posisi saya di mana, saya selalu jawab posisi saya pindah-pindah, geram, untung tidak saya habisi," ucapnya.

Meski ditawari uang tutup mulut, YY dengan tegas menolak keinginan Herry Wirawan untuk damai.

Ayah korban kemudian menghubungi saudaranya yang tergabung di lembaga bantuan hukum di Garut.

Dirinya dan korban lain kemudian secara resmi melaporkan pelaku ke Polda Jabar pada tanggal 18 Mei 2021 dengan nomor laporan LBP/480/V/2021/Jawa Barat.


Geram dengan kelakuan bejat sang guru ngaji, YY sangat berharap Herry Wirawan dijatuhkan hukuman berat.

Menurutnya, akibat perbuatan keji Hery Wirawan, putrinya menderita depresi dan tidak mau sekolah.

"Saya ingin (pelaku) dihukum seberat-beratnya, ya."

"Saya berharap dari sisi hukum pelaku dihukum seberat-beratnya, minimal kebiri maksimal hukuman mati,"

"Soalnya apa? Sakitnya orang tua sakitnya anak, sampe sekarang aja anak saya itu ga mau sekolah, putus sekolah," ungkapnya.

Ayah korban pun semakin geram karena perbuatan keji Herry Wirawan, tak hanya putrinya yang menderita, tapi juga istrinya.

Ibu korban sampai kejang-kejang saat mendengar anaknya menjadi korban perkosaan Herry Wirawan.

"Saya marah, geram. Waktu itu dini hari saya mendengar kenyataan pahit itu, istri saya saat itu pun sampai kejang-kejang selama dua jam," katanya.

YY bahkan tak segan menghabisi nyawa Herry bila istrinya sampai meninggal dunia.


"Kalau waktu itu saja istri saya meninggal karena kejang-kejang akibat mengetahui anak saya jadi korban, saya tidak akan segan untuk bunuh dia," tambahnya.

Kini, YY juga berharap ada pendampingan secara masif terhadap korban dan anak-anak korban termasuk jaminan mereka ke depannya bisa sekolah.

"Kemudian pendampingan kepada masing-masing korban dan anak-anak korban, terutama di sisi mental dan jaminan untuk meneruskan sekolah," ucapnya. (*)

Iklan Atas Artikel

Iklan Bawah Artikel